Selasa, 31 Desember 2019

Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” [Yohanes 7:37]


Kesabaran bekerja sempurna di dalam Tuhan Yesus, dan hingga hari perjamuan terakhir ia memohon kepada orang Yahudi, seperti pada hari terakhir dari tahun ini ia juga memohon kepada kita, dan menunggu saatnya Dia bermurah hati kepada kita. Sungguh mengagumkan kesabaran Juruselamat terhadap kita tahun demi tahun, di tengah hasutan, pemberontakan, dan perlawanan kita terhadap Roh Kudus-Nya. Aneh bin ajaib kita masih berada di ladang belas kasihan!

Belas kasihan mengungkapkan dirinya dengan terus terang, ketika Yesus berseru, yang bukan saja menunjukkan betapa keras suara-Nya, tapi juga betapa lembut nada-Nya. Ia memohon dengan sangat agar kita diperdamaikan. “Kami meminta kepadamu,” kata Rasul itu, “seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami.” [2 Korintus 5:20] Betapa sungguh-sungguh dan memilukan kata-kata ini! Betapa dalamnya kasih yang membuat Tuhan menangisi para pendosa, seperti seorang ibu yang membujuk anaknya datang ke pangkuannya! Terhadap seruan permohonan itu hati kita yang rela pasti akan datang.

Kebutuhan disediakan melimpah ruah; semua yang manusia butuhkan disediakan untuk memuaskan dahaga jiwanya. Bagi hati nuraninya penebusan membawa damai sejahtera; bagi pikirannya injil mengumandangkan pengajaran yang terkaya; bagi hatinya pribadi Yesus adalah objek cinta kasih yang paling mulia; bagi seluruh tubuh kebenaran seperti yang ada pada Yesus memberikan nutrisi yang paling murni. Dahaga itu mengerikan, namun Yesus dapat menghilangkannya. Meskipun jiwa sangat kelaparan, Yesus dapat memulihkan.

Seruan ini berlaku bebas, sebab semua orang yang dahaga dipersilakan datang. Seruan ini tidak diperuntukkan kepada khalayak tertentu, hanya disebut untuk yang dahaga. Apakah dahaga datang dari serakah, ambisi, pelesir, ilmu, atau istirahat, orang yang dahaga diundang. Dahaga itu pada dirinya buruk, dan bukan merupakan tanda anugerah, melainkan tanda dari dosa besar yang ingin dipuaskan oleh nafsu yang merupakan kekeringan yang lebih dalam lagi; namun bukanlah kebaikan dari makhluk ciptaan tersebut yang mendatangkan undangan, melainkan Tuhan Yesus mengirimkannya dengan cuma-cuma, tanpa membeda-bedakan penerimanya.

Pribadi Yesus dinyatakan sepenuhnya. Pendosa harus datang kepada Yesus, bukan kepada perbuatan, peraturan, atau doktrin, melainkan kepada seorang pribadi Penebus, yang oleh diri-Nya sendiri menanggung dosa kita dalam tubuh-Nya di atas kayu salib. Juruselamat yang bercucuran darah, mati, dan bangkit, adalah satu-satunya bintang pengharapan bagi seorang pendosa. Oh sekarang datanglah anugerah dan minumlah, sebelum matahari terbenam pada hari terakhir tahun ini!

Tidak diharuskan menunggu atau bersiap-siap. Minum berarti menerima tanpa syarat kelayakan. Seorang bebal, seorang pencuri, seorang pelacur dapat minum; demikianlah dosa pada sifatmu bukanlah penghalang undangan untuk percaya kepada Yesus. Kita tidak butuh piala emas, atau yang berhiaskan permata, untuk memberikan air kepada orang yang haus; mulut yang melarat dipersilakan membungkuk dan meneguk luapan aliran air. Bibir yang melepuh, kusta, ataupun kotor boleh menyentuh aliran kasih ilahi; bibir mereka tidak dapat mencemarkannya, justru bibir mereka akan dimurnikan. Yesus adalah mata air pengharapan. Pembaca yang terkasih, dengarlah suara Penebus yang penuh kasih ketika Ia berseru kepada masing-masing dari kita,

    “BARANGSIAPA HAUS,
    BAIKLAH IA
    DATANG KEPADA-KU
    DAN MINUM.”
____________________

RENUNGAN PAGI (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).
Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.

BAGIKAN MELALUI

Unfortunately, we currently do not have English devotions available.