Jumat, 30 Juli 2021

Lalu menangislah ia tersedu-sedu. [Markus 14:72]


Beberapa orang berpikir bahwa selama Petrus hidup, air matanya mulai memancur kapanpun ia mengingat penyangkalannya terhadap Tuhan-nya. Tidak mustahil memang seperti itu, sebab dosanya sungguh besar, dan kasih karunia telah mengerjakan karya yang sempurna di dalam dirinya. Pengalaman yang sama ini lazim dialami semua keluarga yang tertebus sesuai dengan derajat Roh Allah menghapus hati alami mereka yang berupa batu. [Yeh 11:19] Marilah kita, seperti Petrus, ingat akan janji kita yang penuh kebanggaan: “Meskipun semua orang meninggalkan Engkau, tetapi aku tidak akan.” Kita memakan perkataan kita sendiri dengan ramuan pahit pertobatan. Ketika kita berpikir mengenai apa yang kita janjikan dan apa yang telah terjadi, kita akan menangis dengan hujan kesedihan. Petrus memikirkan penyangkalan terhadap Tuhan-nya. Tempat di mana dia melakukannya, penyebab kecil yang membawa dia kepada dosa yang keji, sumpah-sumpah dan hujatan yang ia pakai untuk meyakinkan kebohongannya, dan pengerasan hati yang mengerikan mendorong dia untuk melakukannya lagi dan lagi. Bisakah kita, ketika kita diingatkan akan dosa-dosa kita, dan keberdosaan yang berlebihan, tetap bersikap dingin dan keras kepala? Akankah kita tidak membuat rumah kita menjadi Bokhim [Hak 2:5], dan berseru kepada Tuhan untuk pembaruan jaminan dari kasih yang mengampuni? Biarlah kita tidak pernah memiliki mata yang kering terhadap dosa, supaya kita tidak memiliki lidah yang kering di api neraka. Petrus juga berpikir tentang pandangan kasih dari Gurunya. Tuhan menindaklanjuti suara peringatan ayam yang berkokok dengan raut wajah yang memperlihatkan kesedihan, belas kasihan, dan kasih. Pandangan sekilas itu tidak pernah hilang dari benak Petrus selama dia hidup. Itu jauh lebih manjur daripada sepuluh ribu khotbah yang diberikan tanpa Roh. Rasul yang menyesal pasti bersedih ketika dia mengingat akan pengampunan penuh Sang Juruselamat, yang memulihkannya kepada kondisi yang semula. Memikirkan bahwa kita telah melukai Tuhan yang baik dan murah hati, merupakan alasan yang lebih dari cukup untuk menjadi peratap yang terus-menerus. Tuhan, pukul batu karang hati kami, dan buatlah air mengalir.

____________________

RENUNGAN PAGI (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).
Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.

BAGIKAN MELALUI

Unfortunately, we currently do not have English devotions available.