Jumat, 11 Juni 2021

Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. [1Yoh 4:19]


Tidak ada terang di planet ini kecuali yang keluar dari matahari; demikian tidak ada kasih yang sejati kepada Yesus dalam hati, kecuali yang berasal dari Tuhan Yesus sendiri. Dari mata air kasih Tuhan yang meluap dan tidak terbatas ini, terpancarlah seluruh kasih kita kepada Tuhan. Selamanya adalah suatu kebenaran yang agung dan pasti, bahwa kita mengasihi Dia hanya karena Dia lebih dahulu mengasihi kita. Kasih kita kepada-Nya murni adalah buah dari kasih-Nya kepada kita. Kekaguman yang dingin, ketika mempelajari pekerjaan Tuhan, dapat dimiliki siapa saja, tetapi cinta yang hangat hanya bisa disulut di dalam hati oleh Roh Allah. Betapa ajaibnya bahwa kita pun dimampukan untuk mengasihi Yesus! Betapa mengagumkannya, bahwa ketika kita memberontak melawan-Nya, Dia tetap, dengan pertunjukan kasih yang menakjubkan, berusaha untuk menarik kita kembali. Tidak! Tidak pernah kita mempunyai sebutir cinta terhadap Tuhan, kecuali itu telah ditaburkan di dalam kita dari benih kasih-Nya yang manis kepada kita. Memang, induk dari kasih adalah kasih Allah yang dicurahkan ke dalam hati [kita]: tetapi sesudah kasih itu lahir secara ilahi, kasih harus dipelihara secara ilahi. Kasih itu eksotis; ia bukanlah tanaman yang akan berkembang secara alamiah pada tanah manusia, ia harus disirami dari atas. Kasih kepada Yesus bagai sebuah bunga yang sifatnya begitu lembut, jika ia hanya mendapatkan makanan dari batu karang hati kita, ia akan segera layu. Sebagaimana kasih datang dari surga, demikian pula ia harus diberi makan roti surgawi. Ia tidak dapat bertahan dalam padang gurun, kecuali ia diberi makan manna dari tempat tinggi. Kasih harus diberi makan kasih. Jiwa dan kehidupan dari kasih kita kepada Allah adalah kasih Allah kepada kita.

    “Aku mengasihi Engkau, Tuhan, tetapi bukan dengan kasihku,
    karena aku tidak mempunyai apa-apa untuk diberi;
    Aku mengasihi Engkau, Tuhan, tetapi semua kasihku adalah milik-Mu,
    karena oleh kasih-Mu aku hidup.
    Aku tidak ada apa-apanya, dan bersukacita
    saat dikosongkan, dan hilang, dan ditelan di dalam Engkau.” [1]
____________________
[1] I love my Lord, but with no love of mine - Madame Guyon

RENUNGAN PAGI (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).
Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.

BAGIKAN MELALUI

Unfortunately, we currently do not have English devotions available.