Selasa, 8 Januari 2019

Kesalahan terhadap segala yang dikuduskan. [Keluaran 28:38]


Kata-kata itu menyingkapkan kita dari sebuah selubung, dan merupakan sebuah penyataan yang hebat. Jikalau kita berhenti sejenak dan melihat pemandangan yang menyedihkan ini, kita akan mendapatkan kerendahan hati dan manfaat darinya. Ibadah umum kita penuh kedurjanaan, termasuk munafiknya, formalitasnya, suam-suam kukunya, tidak hormatnya, pikirannya yang melayang-layang dan lupa melulu akan Allah, alangkah banyaknya! Di dalam pekerjaan kita untuk Tuhan, ada pura-pura, egois, ceroboh, malas, tidak percaya, alangkah banyaknya kecemaran! Dalam saat teduh pribadi kita, ada kesantaian, dingin, lalai, ngantuk, dan kekosongan, sungguh merupakan timbunan tanah mati. Bila kita melihat dengan lebih teliti, kita akan menemukan kedurjanaan tersebut jauh lebih besar daripada apa yang pertama kali terlihat. Dr. Payson [1], menulis kepada saudara laki-lakinya, "Parokiku, dan juga hatiku, sangat mirip dengan taman para pemalas; dan lebih parah lagi, aku mendapati bahwa banyak sekali hasrat untuk menjadikan keduanya kelihatan lebih baik, keluar dari kesombongan atau dari kesia-siaan atau dari kemalasan. Aku melihat rumput liar menyebar di tamanku, kemudian aku menghembuskan nafas keinginan yang kuat untuk membasmi mereka. Tapi kenapa? Apa yang mendorong keinginan itu? Mungkin hanya supaya aku berjalan-jalan dan mengatakan pada diriku, 'Betapa tertata rapi tamanku ini!' Ini kesombongan. Atau, agar para tetanggaku melihat dari balik tembok dan berujar, 'Alangkah tumbuh subur tamanmu!' Ini kesia-siaan. Atau aku mungkin bertekad menghancurkan rumput liar karena aku lelah mencabutinya. Ini kemalasan." Jadi bahkan keinginan kita akan kekudusan pun bisa dicemari motivasi yang salah. Di bawah lempeng rumput yang paling hijau cacing bersembunyi; kita tak perlu waktu lama menemukannya. Pemikiran ini begitu menghibur: ketika Imam Besar menanggung kesalahan terhadap segala yang dikuduskan, pada dahinya dikenakan kata-kata "Kudus bagi TUHAN" [Keluaran 28:36], apalagi ketika Yesus menanggung dosa kita, di hadapan wajah Bapa-Nya, Dia mempertunjukkan bukan ketidakkudusan kita, melainkan kekudusan-Nya. Oh, mohon anugerah untuk memandang Imam Besar kita yang agung dengan mata iman!

____________________
[1] Edward Payson (1783–1827)

RENUNGAN PAGI (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).
Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.

BAGIKAN MELALUI

Unfortunately, we currently do not have English devotions available.